Selasa, 28 Mei 2013

KARAKTERISTIK AKHLAK ISLAM



Sebelum menjelaskan tentang pengertian akhlak , alangkah baiknya Penulis mengulas sekilas istilah yang sering disamakan dengan akhlak yaitu budi pekerti, etika dan moral.
            Budi pekerti merupakan istilah netral yang mempunyai arti tuntutan sekaligus ukuran baik dan buruk perbuatan, baik menurut apa? belum bisa dijawab inilah yang disebut netral tadi.(Tafsir, 2012: 120). Etika yaitu ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang diketahui oleh akal pikiran. (Ya’qub, 1983: 13).  Sedangkan moral berasal dari kata bahasa latin “mores” kata jama’ dari “mos” yang berarti adat kebiasaan. Secara terminologi moral yaitu perbuatan baik dan buruk yang didasarkan pada kesepakatan masyarakat. ( Saebani,2010: 30).
            Dari ulasan singkat tentang budi pekerti, etika, moral jelas bahwa budi pekerti adalah kata netral yang menunjukan baik dan buruk, bila baik buruk itu berdasarkan akal maka budi pekerti etika dan bila baik buruk didasarkan dengan kesepakatan masyarakat maka budi pekerti moral. Lalu bagaimana dengan akhlak?, inilah yang akan dibahas oleh Penulis.
Kata “اَخْلاق  berasal dari bahasa arab jama’ dari kata “خُلُقٌ yang berarti budi pekerti, perangi, tingkah laku atau tabiat, tata karma, sopan santun, adab dan tindakan. ( Saebani, 2010: 13). Sedangkan pengertian secara termonologi, akhlak yaitu budi pekerti yang ditentukan oleh agama. ( Tafsir, 2012: 121). Imam ghozali ( Dzatnika, 1996: 27) berpendapat akhlak yaitu suatu sifat yang tetap pada jiwa yang padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran. Sedangkakan Ahmad Amin ( Dzatnika, 1996: 27) mendefinisikan akhlak yaitu membiasakan kehendak. Dari pengertian Ahmad Amin dan Ghozali sesuatu menjadi akhlak apabila perbuatan-perbuatan baik atau  buruk dilakukan dengan diulang-ulang sehingga pada waktu mengerjakan perbuatan tersebut menjadi kebiasaan dan tidak menimbulkan pemikiran lagi.  
                       
Uraian dia atas menjelaskan bahwa akhlak merupakan budi pekerti yang berdasarkan agama Islam yakni al-Qur’an dan hadits berbeda dengan etika dan  moral bahkan dengan akhlak yang ada dalam agama samawi lainnya yaitu Yahudi dan Nasroni.
Menurut Ali Abdul Halim Mahmud ( 2004: 19) akhlak islam berbeda dengan akhlak agama samawi lainnya yaitu Yahudi dan Nasrani. Dalam yahudi akhlak lebih memperhatikan terhadap kehidupan dunia. Sebagian besar konsentrasi mereka (yahudi) dicurahkan kepada kehidupan dunia fana ini, sedangkan kehidupan yang kekal mereka hanya sedikit perhatian dan larangan-larang mereka hanya berlaku kepada kerabat, sebagaimana tercantum dalam perjanjian lama, kitab keluaran:19/5 yang berbunyi:
“ Hormatilah ayah dan ibumu agar kehidupan yang diberikan Tuhanmu di bumi ini berlangsung lama, jangan sampai membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan menjadi saksi palsu atas tuntutan yang yang ditujukan kepada kerabatmu, jangan pula kau menginginkan rumah, istri, hamba laki-laki, sapi, keledai, dan sedikitpun dari milik kerabatmu.”
 Menurut Mahmud ( 2004: 20) akhlak dalam agama Nasroni yang berasal dari Tuhan tetapi Agama Masehi ini lebih memperhatikan kehidupan akhirat, sehingga kehidupan dunia terabaikan sebagaimana tercantum dalam injil Matius: 4/3: “beruntunglah orang-orang yang penyayang kerena mereka menyayangi. Beruntunglah orang-orang yang hatinya suci kerena mereka menyaksikan Allah…...kalian bahwasannya ada yang berkata ‘ Mata dibalas dengan mata, gigi dibalas dengan gigi’ akan tetapi Aku berkata’ janganlah kalian balas kejahatan akan tetapi jika seseorang menampar pipi kananmu maka berikanlah pipi kirimu….”    Kalau begitu apa  karakteristik akhlak islam? Maka Penulis akan mengulas tentang karakteristik akhlak islam.
Akhlak Islam mempunyai karakter adalah al-qur’an dan hadits sebagai sumbernya, kedudukan akal, motivasi iman, mata rantai akhlak, tujuan luhur akhlak. ( Ya’qub, 1983: 50).
a.       Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber akhlak islam
Al-Qur’an dan hadits sebgai sumber hokum bagi umat islam baik dalam aqidah, ibadah dan juga dalam akhlak. Sehingga Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman bagi umat islam, Allh berfirman dalam surat al-Maidah ayat 15-16:
 “ Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”.
“Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.
Sedangkan hadits sebagai pedoman kedua untuk umat islam sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-Hasr ayat 7 :
 “……Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya”.
Dan Allah berfirman dalam surat al-ahzab ayat 21 :
 “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.
            Jika telah jelas bahwa Al-Qur’an dan Sunah Rosul adalah pedoman hidup yang menjadi dasar bagi setiap muslim, maka teranglah keduannya merupakan sumber akhlak dalam Islam.
b.      Kedudukan Akal dan Naluri
Hamzah Ya’qub (1983: 51) berpendapat bahwa  etika yang menjadikan akal dan naluri sebagai dasar penentuan baik dan buruk, maka ajaran akhlak Islam berpendirian sebagai berikut:

1). Akal dan naluri sebagai anugrah dari Allah
2). Akal pikiran manusia terbatas sehingga tidak bisa memecahkan semua masalah sebagaiman Allah berfirman:
 “ dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".(Q.S. 17 al-Isra: 85).
3). Naluri manusia harus mendapatkan pengarahan dari petunjuk  Allah yang dijelaskan dalam al-qur’an. Jika tidak naluri akan salah dalam penyalurannya.
c.        Motivasi Iman
Dalam islam setiap perbuatan motivasi dalam perbuatan adalah aqidah, iman yang terpatri dalam hati. Iman itulah yang membuat seorang muslim ikhlas, mau bekerja (beramal). Keras bahkan rela berkorban. Iman itulah yang menjadi pendorong dalamk perbuatan. Nabi bersabda
“ sekali-kali tidaklah seorang mu’min akan merasa kenyang (puas) mengerjakan kebaikan, menjelang puncaknya memasuki surga” ( H.R. Tirmidzi).
d.      Mata Rantai Akhlak
Dengan motivasi iman, maka terdoronglah seorang mu’min mengerjakan kebaikan sebanyak-banyaknya menurut kemampuannya. Dalam memanivestasikan iman tersebut terdapat “mata rantai” yang berkaitan dalam realisasinya, yakni niat (keikhlasan) dalam hati, dan pembuktian dengan amal yang dilaksanakan oleh anggota tubuh ( Ya’qub, 1983: 53). Nabi bersabda:
  
   Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. ( Mutafaq ‘alaihi).
Dengan perkataan lain bahwa hanyalah perbuatan yang disertai niat, yang dapat dietrima dan dipertanggungjawabkan. Amal tanpa niat tidak mendapatkan penilaian dalam pandangan Islam ( Ya’qub, 1983: 53).

e.       Tujuan Luhur Akhlak
Dalam dua iftitah solat kita selalu mengucapkan sesungguhnya solat ku, dan hidupku, hidup, mati semua semata-mata dipersembahkan hanya kepada Allah. Tujuan yang akan dicapai oleh seorang mu’min beraakhlak adalah untuk mencapai ridha Allah. Sebagaimana Allah berfirman:
 Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku.” (Q.S. 89: 27-30).

DAFTAR PUSTAKA
Mahmud A. Ali 2004     akhlak mulia, jakarta Gema insani
Saebani A. Beni 2010    Ilmu akhlak, Bandung Pustaka setia
Tafsir Ahamad    2010   Filsafat pendidikan islami, Bandung Rosda
Ya'qubHamzah    1983  Etika Islam, Bandung Diponegoro 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar